-->

Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek"

Hallo bunda-bunda PAUD, mungkin bunda butuh ni dengan Labu Buat Anak PAUD di Satuan Pendidikan masing-masing dengan judul lagunya "Bebek Wek Wek Wek".

Lagu ini kami dapat dari Ruang Guru PAUD di sana sobat bisa mendengarkannya langsung ketika bunda klik tombol Play.
Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek"
Tetapi dalam komnetar di sana, masih banyak yang kesulitan untuk mendownload lagu tersebut. Nah.. pada kesempatan ini kami akan mempermudah bunda-bunda dalam mendownloadnya untuk di ajarkan kepada anak-anak di sekolah.

Sebab kami Upload video ini ke dalam Google Drive kami, artinya sangat mudah untuk didownload walapun bunda downloadnya di Handphone.

Silahkan Download Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek" pada Link Di bawak ini:

Download Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek"

Mudah-mudahan bermanfaat, jangan lupa bunda bagikan artikel ini ke jaringan sosial yang bunda gunakan, atau di grup-grup guru PAUD di Kecamatan masing. Terimakasih

Keaksaraan Awal Untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Polemik membaca dan menulis bagi anak usia dini masih menjadi pro dan kontra. Ada yang berpendapat membaca bagi anak usia dini berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di Sekolah Dasar (SD).    Sebagian lain berpendapat, tidak masalah mengajarkan membaca sejak anak usia dini, agar anak memiliki kesiapan ketika masuk SD. Selain itu kemampuan membaca merupakan salah satu syarat untuk masuk SD. Permasalahan tersebut, membuat orangtua menjadi bingung, mana yang harus diikuti.
Keaksaraan Awal Untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Mengenai kontroversi bisa tidaknya anak usia dini diberikan materi pelajaran membaca, R. Ella Yulaelawati R., M.A. Ph.D, Direktur Pembinaan PAUD mengatakan yang dibutuhkan anak usia dini adalah keaksaraan awal. Hal tersebut disampaikan ketika menjadi pembicara pada seminar “Peran Orangtua Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Anak Usia Dini”, yang dilaksanakan oleh Yayasan Citra Pendidikan Indonesia.

Dasar Hukum


Untuk calistung, sudah ada larangan melalui ederan dirjen PAUD dan Dikmas. Dan untuk mematahkan argumen bahwa tetap dikehendaki calistung, karena SD-SD mengetes calon peserta didik baru dengan calistung, itu sudah ada ederan dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa untuk masuk SD itu tidak diharuskan anak-anak ikut tes calistung, urai Ella Yulaelawati,  

Selain itu menurut Direktur Pembinan PAUD, untuk mengkaji tentang membaca bagi anak usia dini dapat merujuk peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Dalam pasal 5 dimuat bahwa struktur kurikulum PAUD membuat program-program pengembangan yang mencakup; nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, pasal 10 berbunyi “keaksaraan, mencakup pemahaman terhadap hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dan cerita”.

“Jadi memahami kata dan cerita itu tidak dilarang, meniru bentuk hurup tidak dilarang. Untuk kita harus memahami kurikulum PAUD, agar kita dapat memahami apa yang dianjurkan dan apa yang dilarang, itu harus diketahui”, tegas Ella Yulaelawati.

Menurut Ella Yulaelawati, pada prinsipnya Kurikulum PAUD 2013, mendorong pengembangan optimal potensi peserta didik melalui pengalaman belajar bermakna. Yakini melalui bermain, untuk menumbuhan sikap spritul, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan agar mereka memiliki kesiapan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Namun banyak yang sempit menafsirkan kesiapan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya dengan kemampuan baca, tulis, dan hitung. Sehingga sampai saat ini tetap ada orangtua yang menganjurkan anaknya kursus membaca, menulis,  dan berhitung. Dan ini salah besar, kalau anak belum siap.

“Sebagaimana kemampuan visual, kognitif, mendengarkan sejak janin memang dianjurkan. Tetapi apakah dalam ketegori membaca teknis, yang membutuhkan pengkodean terhadap simbol dan huruf-huruf dan juga pemaham kemampuan anak. Sederhananya begini, apakah anak-anak usia rata-rata 1 tahun bisa berjalan. Untuk bisa jalan pertama kali membalikkan badan, tengkurap, duduk, merangkak baru bisa pintar jalan. Membaca juga demikian, apalagi otaknya sedang berkembang. Kalau anak dipaksa  usia 1 tahun semuanya harus bisa jalan nanti kakinya ada bengkok, ada yang huruf O kalau belum siap. Sekarang ibu-ibu menggunakan Baby walker padahal kaki-kakinya belum tumbuh sempurna, nah itu berpengaruh besar pada perkembangan kaki anak. Nah demikian juga perkembangan otak kalau dikursuskan membaca”, terang Ella Yulaelawati.

Kompetensi Inti Kurikulum PAUD 2013


Selanjutnya Ella Yulaelawati mengatakan, pada Kompetensi Inti kurikulum PAUD 2013 yang berkaitan dengan membaca (K1-4), disebutkan menunjukkan yang diketahui, dirasakan, dibutuhkan, dan dipikirkan melalui bahasa, musik, gerakan, dan karya secara produktif, dan kreatif, serta mencerminkan perilaku anak berakhlak mulia. Tidak disebut calistung.

“Ada memang yang menunjukkan membaca didalam kurikulum PAUD. Dari kompetensi dasar, K.1.10 disebutkan  menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak dan membaca). Tapi lihat indikatornya (4.1.10) untuk usia 4-5 tahun, yaitu menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosa kata yang terbatas. Usia 5-6 tahun, yaitu  menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosakata yang lebih. Maksudnya menyimak dan membaca disini adalah, orang dewasa membaca atau dongeng yang diceritakan, kemudian anak menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosa kata terbatas untuk anak usia 4-5 tahun, dan kosa kata lebih bagi anak usia 5-6 tahun”, jelas Ella Yulaelawati.

Keaksaraan Konvensional


Menurut Direktur Pembinaan PAUD, membaca adalah kunci belajar. Memang betul anak yang mempunyai pengalaman terhadap bahan cetak akan mempunyai dasar-dasar kemampuan untuk membaca, dan membaca adalah fondasi untuk belajar kemampuan belajar lainnya. Kosa kata dan kalimat serta kemampuan berbahasa kebanyakan diperoleh dari membaca atau melalui bahasa tulis.

“Tapi apakah harus mengajar membaca di PAUD?, jawabnya tidak. Tidak mengajar membaca, tidak mengajar membaca bunyi, tidak keaksaraan konvensional. Tetapi harus, harus, dan wajib keaksaraan awal atau pra-keaksaraan”, ungkap Ella Yulaelawati.

Selanjutnya beliau menjelaskan, apa yang tidak boleh, yang tidak boleh  adalah keaksaraan konvensional. Dimana mengajar membaca yang memuat komponen reseptif yang meliputi ketepatan pengkodean, kelancaran pengkodean, dan pemahaman bacaan. Karena anak dapat mengkodekan hal-hal/kosakata yang dapat dipahami, tetapi anak tidak dapat memahami hal-hal yang tidak dapat dikodekan. Jadi membaca itu melibatkan 2 hal. Pertama kemampuan pengkodean dan kedua kemampuan pemahaman”

Anak akan mengalami kesulitan membaca bila, 1. Kurang kesempatan berlatih dengan aksara. 2. Kurang kesempatan mengembangkan strategi memahami bacaan. 3. Sering berlatih membaca di luar kemampuannya. 4. Mempunyai pengalaman negatif terhadap membaca. Atau dipaksa/terpaksa membaca di luar minatnya.

Pada kesempatan tersebut Ella Yulaelawati mengingatkan bahwa, kita sering mendengar bonus demokrafi. Sekarang ini anak usia dini ada 19 juta, kalau 19 juta ini diberikan calistung yang tidak bermakna. Maka 19 juta di tahun 2030 atau 15 tahun kemudian, kalau mahasiswa sulit menulis skripsi. Karena dia mempunyai pengalaman negatif terhadap membaca. Apakah itu yang kita inginkan dengan bonus demografi. Lalu alih-alih mendapat bonus 2045 angkatan kerja yang berkualitas, tapi kita hanya mendapat angkatan kerja yang menjadi beban pemerintah, oleh karena itu, apa yang diharuskan adalah keaksaraan awal.

Keaksaraan Awal


Direktur Pembinaan PAUD berpendapat bahwa, Pra-keaksaraan atau keaksaraan awal adalah istlah yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan anak dalam menggunakan aksara atau membaca dan menulis yang dikuasai sebelum anak belajar cara membaca dan menulis.

“Jadi jangan dikira anak tidak punya keaksaraan awal. Anak yang tidak diajar karena sering dibiasakan bersentuhan dengan aksara. Contohnya Nak tolong bawain majalah kompas,  anak tidak akan membawa majalah tempo, dia bisa membaca gambar. Tapi bukan dia membaca kompas,  tapi dia memahami bentuk-bentuk huruf, misalnya dia bisa membedakan spiderman atau superman” ucap  Ella Yulaelawati. 

Keaksaraan awal merupakan tanda bahwa anak, bahkan sejak usia satu atau dua tahun sudah berproses untuk menjadi aksarawan. Ini yang harus ditumbuhkan, yaitu proses untuk menjadi aksarawan, bukan untuk menjadi anak menjadi pintar calistung, yang pintar menjawab teks/soal. Menurut Ella Yulaelawati Keaksaraan awal merupakan tatanan fondasi untuk mengusai kemampuan membaca dan menulis serta berhitung yang menyenangkan. Keadaan keaksaraan awal ini harus dikembangkan dengan baik di PAUD dan tidak dialihkan dengan penguasaan keaksaraan konvensional yang akan melelahkan anak dan menimbulkan pengalaman negatif terhadap membaca dan menulis. Keaksaraan awal dapat dibangun sejak bayi dan di usia dini melalui peran serta orang dewasa dalam kegiatan bermakna yang melibatkan berbicara dan aksara.

Keaksaraan awal dapat membangun calon pembaca yang berminat baca dengan menguasai: 1. Bahasa lisan. 2. Lingkungan beraksara . 3. Pengetahuan abjad melalui bernyanyi; 4. Makna bunyi. 5. Pemahaman visual-gambar bola, buah, bunga. 6 Konsep bahan cetak (Tulisan yang dikenal anak, seperti: TV, dora, spiderman). 7 Bahasa tulis-pengetahuan tentang buku. 8 Seolah membaca–meniru membaca. Dan 9. Seolah menulis–meniru menulis.

Jadi Periode anak usia dini merupakan masa peka untuk semua perkembangan anak, sehingga dalam pembelajaran Pra-Keaksaraan diharapkan peran guru lebih banyak menstimulasi, membimbing, dan mengasuh dengan memberikan bermain yang bermakna, aman, nyaman dan menyenangkan  sesuai tahap perkembangan anak, sehingga anak mampu menumbuhkan lebih  banyak penguasaan kosa kata. Anak mampu mendongeng, jangan hanya gurunya saja yang mendogeng. Anak juga mampu membacakan kembali buku imajinatif yang kreatif, dan mampu menjelajah kekayaan bahasa serta dapat menikmati lingkungan beraksara, ujar Ella Yulaelawati.

Kegiatan Bermain Yang Mengembangkan Bahasa Lisan


Menurut Ella Yulaelawati, kegiatan bermain dengan anak dapat mengembangkan bahasa lisan, diantaranya melalui:

1. Bermain Drama

Gunakan pakaian, assesoris, nyanyian, tarian yang dapat mendramakan suatu cerita sehingga disukai anak. Bermain seperti ini, melibatkan anak dalam mengalami pelibatan bahasa dan membantu mereka mengerti perlunya membaca untuk memahami sesuatu.

2. Bermain Balok

Kadang bermain balok, bermain balok saja, tidak dikenalkan perolehannya. Guru bisa membandingkan, menjelaskan, lalu mengembangkan kemampuan kosa kata yang berkaitan dengan bentuk-bentuk bangunan, menara, jembatan atau struktur alam seperti pohon, batu dan gunung, untuk belajar kosakata tentang struktur.  Bermain mengembangkan bahasa ketika anak-anak berbicara bersama anda, membandingkan, menjelaskan dan memberi nama pada struktur-struktur yang telah diciptakan oleh mereka.

3. Bermain menggunakan permainan sendiri

Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan mengumpulkan benda-benda yang dimulai dengan huruf “D”, misalnya daun, dadu, donat, duku, dll.

4. Menyanyi bersama anak

Musik dan nyanyian adalah hal yang penting dalam mengembangkan pengenalan bunyi dan suara, khususnya yang digunakan untuk mengucapkan huruf.  Selain itu menyanyikan lagu yang memuat irama dan cerita membantu anak untuk mempelajari huruf baru sebagaimana mereka memahami irama  dan isi lagu. Hal itu juga membantu untuk mengembangkan kemampuan anak dalam mencipta isi dan lagu  sendiri.

Banyak anak-anak secara alami tertarik untuk bergumam atau menyanyikan lagu. Hal itu juga bermanfaat untuk membangun ketertarikan anak terhadap musik dan meningkatkan perkembangan keaksaraan anak pada waktu yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan bermain permainan lagu alphabet dengan anak dengan mencari benda-benda misalnya yang dimulai dengan huruf “B”  bola, boneka, bunga dan seterusnya. Guru dan orangtua dapat membantu mereka untuk menjelaskan kosakata yang disebutkan anak-anak.

5. Membaca bersama anak

Ketika membaca bersama anak, minta mereka menjelaskan mengenai cerita apa yang telah mereka baca. Membaca bersama-sama membantu anak untuk mengekspresikan diri mereka sendiri secara verbal.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dapat lebih mempelajari tentang huruf dan kosakata ketika orangtua membaca bersama-sama dengan mereka. Serta meminta anak-anak untuk menceritakan cerita yang mereka baca. Hal ini bisa dilakukan dengan menyuruh anak-anak melihat hanya pada gambar yang ada dalam buku, bukan kata-katanya, kemudian minta mereka untuk menceritakan isi cerita berdasarkan gambar dari buku yang dibaca bersama.

Pada prinsipnya kemampuan Pra Keaksaraan Anak Usia Dini meliputi; 1. Berbicara secara positif dan akurat berdasarkan kosa kata yang didengarnya. 2. Mendengarkan, mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan bahasa yang baik. 3. Menyampaikan dan menceritakan dongeng atau bacaan yang didengarnya. 4. Meniru/mengekspresikan karakter tokoh-tokoh baik dan menghindar dari karakter negatif. dan 5. Mengatasi emosi seperti rasa takut, cemburu, marah atau meluapkan kegembiraan yang sehat dari dongeng atau bacaan yang didengarnya.

Diakhiri materinya Direktur Pembinaan PAUD mengingatkan bahwa hal-hal yang harus dihindari yaitu: 1. Mengajarkan membaca tidak sesuai perkembangan anak. 2. “Memaksakan” anak belajar membaca bunyi tanpa makna. 3.  Memberikan lembaran kerja berlebihan. Dan 4. Menganjurkan orangtua agar anak ikut kursus membaca. (adrianto).

Sumber: Ruang Guru PAUD

Kriteria Ideal Guru Taman Kanak-kanak

Hallo sobat, kami bagikan kembali artikel tentang Kriteria Ideal Guru Taman Kanak-kanak yang perlu kita perhatikan di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini yang sekarang kita kelola, jangan-jangan guru di lembaga kita belum ideal.

Guru-guru taman kanak-kanak (TK) selain harus memiliki modal kerja untuk mendidik murid, juga idealnya memenuhi kriteria tertentu. Soal perlunya modal kerja ini, silakan pembaca memeriksa artikel lain dalam laman ini juga berjudul Modal Kerja Guru Taman-kanak. Berikut kriteria ideal guru TK yang saya coba adaptasikan dari buku Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak, karya Agus F. Tangyong dkk., terbitan Gramedia, 1988.
Kriteria Ideal Guru Taman Kanak-kanak
Guru TK yang paling ideal adalah seorang profesional yang terdidik dan terlatih baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Pengertian terdidik adalah mereka yang memiliki bekal pendidikan formal. Idealnya, guru TK minimal berpendidikan strata 1 dalam bidang apa pun. Namun tak berarti mereka yang berpendidikan setingkat SMP atau SMA tak dibolehkan mengajar murid TK, karena pada dasarnya yang dibutuhkan adalah kemampuannya yang setingkat sarjana Strata 1, bukan ijazahnya.

Memang faktanya sebagian besar guru pendidikan anak usia dini, termasuk di dalamnya guru TK, belum sarjana. Berdasarkan data yang diungkapkan Direktur Pembinaan PAUD Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemdikbud Ella Yulaelawati seperti dikutip laman beritasatu.com,  jumlah tenaga kependidikan PAUD saat ini sebanyak 588.475.

Dari jumlah itu, sebanyak 22.972 berlatar belakang pendidikan SMP dan 289.762 SMA. Kemudian, lulusan diploma sebanyak 75.678 dan S1 sebanyak 196.181 orang. Selanjutnya, guru dan tenaga kependidikan lulusan S2 terdapat 3.882 orang.

Kriteria lain, terlatih dengan baik. Guru TK haruslah seorang yang menguasai tehnik mendidik, memiliki pengetahuan tentang cara-cara mendidik, maupun membuat rancangan kegiatan (mingguan dan harian) dan mampu mengorganisasikan kelas. Ia juga mengetahui cara menghadapi berbagai macam  permasalahan anak, mulai dari perkelahian antar anak sampai dengan menggiatkan kelompok belajar.

Guru-guru TK niscaya membutuhkan pelatihan-pelatihan untuk mampu mendidik anak-anak usia TK. Pelatihan-pelatihan ini menyangkut penguasaan kurikulum, pengetahuan tentang kompetensi dasar yang mesti dibekalkan ke anak didik, metode-metode yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kurikulum, dan lain-lain. Pelatihan yang paling dibutuhkan tentu saja materi bermain sebagai metode untuk penanaman nilai-nilai yang diharapkan disemaikan dalam jiwa anak-anak TK.

Kriteria  lain, pengalaman yang kaya di bidangnya. Mereka yang sudah lama menjadi guru TK pasti akan lebih lihai dalam menghadapi murid-murid yang masih berusia dini ini, dibanding para guru pemula. Bagaimana cara menangani anak yang pemberontak, perengek, pengganggu dan lain-lain? Pengalaman yang panjang karena itu diharapkan  meningkatkan kompetensi guru TK untuk menjalankan tugasnya.

Kriteria lain, kecintaan yang tulus pada anak, berminat pada perkembangan anak, bersedia mengembangkan potensi yang dimiliki anak, hangat dalam bersikap dan bersedia bermain dengan anak. Kata kuncinya di sini: mencintai anak. Jika rasa cinta pada anak-anak sudah muncul di dalam hatinya, maka sikap-sikap berikutnya akan mengikut, seperti memperhatikan, memedulikan, bersimpati, berempati, sikap hangat, dan seterusnya.

Guru TK adalah guru yang konsisten sekaligus luwes dan lincah dalam menghadapi kebutuhan, minat dan kemampuan anak.

Kriteria guru yang ideal belum tentu dapat dipenuhi oleh seorang guru TK, namun yang penting adalah usaha ke arah itu.

Sumber: Ruang Guru PAUD

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NO 4 TAHUN 2019 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS NONFISIK BANTUAN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Hallo sahabat semuanya kami akan kembali lagi mengupdate blog ini, sebelumnya kami minta maaf karena banyak kesibukan di dunia nyata sehingga kami tidak memberikan informasi terupadte pada blog kesayangan ini.

Pada kesempatan ini kami akan menginformasikan tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 4 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini atau yang sering di sebut BOP PAUD.

Pendidikan pra-sekolah atau yang populer sebagai PAUD yang lebih komprehensif, inklusif dan bermutu merupakan hal yang positif bagi kepentingan pengembangan potensi dan karakter yang dimiliki anak sejak dini serta mempersiapkan anak untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan perkembangan anak usia dini merupakan tahap perkembangan yang paling penting dalam masa hidup manusia. 
Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini
Program-program pelindungan, pengasuhan anak dan pendidikan usia dini yang berkualitas menghasilkan manfaat dan efek jangka panjang yang lebih tinggi daripada program belajar semata. Penyiapan manusia berkualitas sejak dini sejalan dengan program prioritas yang diamanatkan Nawacita, khususnya Nawacita ke-8 yaitu “melakukan revolusi karakter bangsa”, Nawacita ke-5 “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”, dan Nawacita ke- 6 “meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional”.

Dari hasil pemantauan masih banyak anak-anak yang kurang beruntung untuk memperoleh manfaat yang paling mendasar dari  program PAUD. Mereka memiliki keterbatasan untuk memperoleh layanan yang layak melalui program PAUD: anak perempuan, anak-anak migran, dan anak- anak korban konflik, bencana, dan kekerasan; anak-anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrim dan di pedesaan serta daerah terpencil; anak yang kesehatannya buruk, kurang gizi, dan menyandang cacat serta keterlambatan perkembangan; serta anak-anak dari minoritas bahasa/etnis.

Pencapaian selama 17 tahun sejak program PAUD dicanangkan oleh pemerintah menunjukkan hal yang positif dalam keikutsertaan peserta didik khususnya usia 3-6 tahun dalam program-program PAUD. Citacita memberikan kado ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia yang ke 100 akan sangat ditentukan oleh bagaimana kita memanfaatkan peluang bonus demografi dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berintegritas dan berdaya saing global.

Berdasarkan proyeksi data Biro Pusat Statistik jumlah anak usia 3-6 tahun pada tahun 2016 yang berjumlah 19,23 juta anak, pada tahun 2045 usia mereka akan mencapai 32-35 tahun (proyeksi berdasarkan hasil SP 2010). Usia ini merupakan usia angkatan kerja produktif yang jika dipersiapkan dengan baik sejak dini akan menjadi modal pembangunan. Sebaliknya, jika tidak dipersiapkan dengan baik justru kelak akan menjadi beban pembangunan atau bencana demografi.

Maju dan berkembangnya pembangunan suatu bangsa atau negara sangat ditentukan oleh keseriusan pemerintah dalam mempersiapkan generasi penerusnya. Penyiapan generasi unggul untuk menjawab kemajuan peradaban harus dipersiapkan sejak anak masih berusia dini. PAUD merupakan pendidikan yang paling mendasar, dan PAUD yang berkualitas akan sangat berkontribusi terhadap kualitas pendidikan pada jenjang selanjutnya. Hal ini sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menyatakan bahwa peningkatan akses dan kualitas PAUD secara holistik dan integratif merupakan pondasi terwujudnya pendidikan dasar 12 tahun yang berkualitas. 

Untuk lebih jelasnya silahkan sobat download saja Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 4 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. 

DOWNLOAD PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS NONFISIK BANTUAN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI TAHUN 2019.

Demikian informasi kali ini yang bisa kami bagikan mudah-mudahan bermanfaat, jangan lupa bagikan di grup-grup Pendidikan Anak Usia Dini untuk lebih memahami petunjuk teknis juknis penggunaan dana BOP PAUD.