-->

Alat Permainan Edukatif (APE) PAUD

Hallo teman-teman semuanya pada kesempatan ini kami akan membagikan berbagai macam jenis Alat Permainan Edukatif (APE) PAUD yang bisa dituangkan pada RKAS BOP PAUD Tahun 2019, dengan demikian teman-teman bisa secara mudah untuk pengisian dibagian Alat Permainan Edukatif (APE) PAUD.

Baca Juga : Download Contoh RKAS BOP Tahun 2019

Alat Permainan Edukasi diciptakan selain untuk bermain juga memberikan pelajaranan untuk anak serta pengalaman lainnya sesuai dengan usia mereka.  Inilah jenis-Jenis APE yang perlu diketahui:
Alat Permainan Edukatif (APE) PAUD

1. APE CIPTAAN MONTESSORI

Beberapa lembaga Luar dan dalam negeri telah banyak menggunakan dan mengembangkan APE berdasarkan ciptaan Dr. Maria Montessori ini. Dr. Maria Montessori menciptakan alat permaina edukatif yang memudahkan anak mengingat konsep-konsep yang akan dipelajari tanpa perlu bimbingan sehingga memungkinkan anak bekerja secara mandiri. APE ciptaannya teah dirancang sedemikian rupa sehingga anak mudah memeriksa sendiri bila salah dan segera menyadarinya.Jenis APE yang telah dikembangkan di Indonesia berkar dari konsep Montessori. Di antaranya adalah papan bentuk bidang I dan papan bentuk bidan II serta kantong keterampilan tangan untuk melatih kemadirian.

2. APE UNTUK KEMAMPUAN BERBAHASA PEABODY

Alat Permainan edukatif APE yang dikembangkan Elizabeth Peabody yang terdiri atas dua boneka tangan yang berfungsi sebagai tokoh mediator, yaitu tokoh P. Mooney dan Joey. Boneka dilengkapi papan magnet, gambar-gambar, piringan hitam berisi lagu, dan tema cerita serta kantong pintar sebagai pelengkap.APE karya Peabody ini memberikan program pengetahuan dasar yang mengacu pada aspek pengembangan bahasa, yaitu kosakata yang dekat dengan anak. Tema-tema yang dipilih dan diramu harus relevan dengan pengetahuan dan budaya anak setempat.Dewasa ini konsep APE yang dikembangkan Elizabeth Peabody ini, merupakan cikal bakal tumbuhnya pengembang boneka tangan dan boneka jari dalam pembelajaran yang banyak dilakukan dilembaga-lembaga PAUD di Indonesia.

3.  BALOK CRUISSENIRE

George Cruissenaire menciptakan balok Cruissenaire untuk mengembangkan kemampuan berhitung pada anak, pengenalan bilangan, dan untuk meningkatkan keterampilan anak dalam bernalar.

4. APE CIPTAAN FROEBEL

Froebel memiliki alat khusus yang dikenal dengan balok Blocdoss. APE ini berupa balok bangunan, yaitu suatu kotak besar berukuran 20 x 20 cm yang terdiri dxari balok-balok kecil berbagai ukuran yang merupakan kelipatannya.

Balok Blocdoss dikenal dengan istilah kotak kubus dalam program pendidikan TK di Indonesia. Kotak kubus ini banyak digunakan sebagai salah salah jenis APE untuk melatih motorik dn daya nalar anak.

5. BONEKA JARI

Boneka jari ini terbuat dari kain yang tidak mudah robek dan lembut sifatnya, diantaranya dari kain planel, kain woll atau kain perca. Untuk membuat boneka jari ini, kain dibentuk sesuai dengan figur cerita. Satu narasi bisa dapat memerlukan hingga 10 boneka. Banyak bentuk dan jenis boneka jari sesuai dengan tema yang ingin dimainkan, ada seri tertentu seperti seri binatang, keluarga, kartun dan lain sebagainya.

6. PUZZLE BESAR

Legpuzzel atau teka-teki ini untuk dimainkan anak usia 5 tahun. Permainan ini dari triplek yang terdiri dari dua bagian dengan ukuran yang sama. Satu bagian dibuat lukisan sederhana.

Tujuan permainan ini adalah agar anak mengenal bentuk, melatih daya pengamatan dan daya konsentrasi anak, serta melatih keterampilan jari-jari anak.

7. KOTAK ALFABET

Kotak ini berisi huruf-huruf alfabet yang dibuat di atas potongan karton dupleks berukuran 5 x 5 cm. Permaian ini dibuat untu anak yang berumur 5 tahun yang sedang belajar membaca.

8. KARTU LAMBANG BILANGAN

Kartu ini berisikan tulisan angka dari 1 sampai dedngan 50, 1 sampai dengan 100, dan sebagainya. Kartu ini dibuat dari bahan kertas dupleks berukuran 5 x 5 cm. tujuan permainan ini adalah agar anak mengenal lambang bilangan, dan belajar menghitung.

9. KARTU PASANGAN

Kartu ini dimainkan anank usia 4 – 6 tahun. Permainan ini terbuat dari bahahn kertas dupleks berukuran 10 – 8 cm. setiap kartu diberi gabar secara berpasangan.

10. PUZZLE JAM

Pezzle ini terbuat dari tripleks ukuran 30 x 20 cm, sesuai untuk anank usia 5 – 6 tahun. Papan terbuat dari bahan yang sama, diberi gambar sebuah jam lengkap dengan jarum penunjuk.

11. LOTO WARNA

Permainan ini untuk anak usia 3 – 4 tahun dibuat dari triplek atau dupleks yang bentuk sedemikian rupa dapat dimainkan secara perorangan atau bersama-sama kelompoknya.

12. LOTO WARNA DAN BENTUK

Permainan ini dapat dimainkan secara perorangan atau kelompok oleh anak usia 4 tahun ke atas. Dibuat dari triplek atau dupleks, dan permainan ini terdiri dari papan loto berukuran 17,5 x 17,5 cm dan 9 kartu loto. Papan loto dibuat 9 bagian. Masing-masing bagian ditempeli dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda. Tujuan permainan ini adalah untuk mengembangkandan konsentrasi dan pengamatan anak. Cara bermainnya adalah dengan cara mencampuradukan kartu loto. Kemudian mintalah anak untuk menyusun kartu loto di atas papan loto yang sesuai dengan warna dan bentuk pada setiap bagian.

13. APE ALTERNATIF TRADISIONAL

APE yang dibuat dengan memanfaatkan sumber bahan dari lingkungan dan alam sekitar, dengan pengembangan permainan tradisional secara langsung disesuaikan untuk kebutuhan main anak. Ape ini dapat divariasikan dalam kegiatan bermain seperti main peran dan sentra alam.

Baca Juga : Juknis BOP PAUD Tahun 2019

Demikian postingan kali ini yang bisa kami bagikan, mudah-mudahan bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan selanjutnya kami akan memberikan gambar-gambarnya dari penjelasan Alat Permainan Edukatif (APE) PAUD di atas.

Download Contoh RKAS BOP Tahun 2019

Hallo teman-teman semua pada kesempatan ini kami akan share Contoh RKAS BOP Tahun 2019, perlu diketahui pada postingan sebelumnya kami sudah bagikan Juknis BOP PAUD Tahun 2019 tentunya banyak perubahan dari jukni sebelumnya, artinya kita membuat RKAS BOP PAUD Tahun 2019 tentunya ada sebagian yang harus kita buang jika kita mengacu pada RKAS Tahun 2018.

Dengan demikian kami akan membagikan kembali Contoh RKAS BOP Tahun 2019 yang bisa teman-teman pelajari secara mandiri di lembaga masing-masing.
Cover Proposal Bantuan BOP PAUD 2019
Yang harus teman-teman perhatikan dalam Juknis BOP Tahun 2019 ini adalah mengenai Persentase pada bagian-bagian komponen BOP Tahun 2019 ini yang tertuang pada Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019, dimana Komponen Pembiayaan sudah diatur di sana, seperti :

Kegiatan Pembelajaran dan Bermain (Minimal 50% )
  1. Bahan pembelajaran peserta didik yang dibutuhkan sesuai dengan kegiatan, tematik (minimal 45%);
  2. Penyediaan Alat Permainan Edukatif (APE) (maksimal 40%);
  3. Penyediaan alat mengajar bagi pendidik (maksimal 15%).
Kegiatan Pendukung (Maksimal 35%)
  1. Penyediaan makanan tambahan;
  2. Pembelian alat-alat Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK), pembelian obat-obatan ringan, dan isi kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K);
  3. Kegiatan pertemuan dengan orang tua/wali murid (kegiatan parenting);
  4. Memberi transport pendidik dan/atau
  5. Penyediaan buku administrasi.
Kegiatan Lainnya (Maksimal 15%)
  1. Perawatan sarana dan prasarana;
  2. Dukungan penyediaan alat-alat publikasi PAUD;
  3. Langganan listrik, telepon/internet, air.
Komponen Pembiayaan di atas harus diperhatikan ketika membuat RKAS BOP PAUD Tahun 2019 ini agar bisa diterima oleh Dinas Pendidikan masing-masing yang akan diteruskan ke Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini.

Untuk lebih jelasnya silahkan sobat Download dulu Juknis BOP PAUD Tahun 2019 DI SINI

Untuk mempermudah dalam pembuatan RKAS BOP PAUD Tahun 2019 ini, silahkan sobat Download Contoh RKAS BOP Tahun 2019 pada Link di bawah ini :

Download Contoh RKAS BOP Tahun 2019


Semoga contoh RKAS BOP tersebut bermanfaat dan bisa digunakan di lembaga masing-masing, ingat RKAS tersebut sebagai contoh saja ya teman-teman.

Jika bermanfaat artikel ini, silahkan teman-teman bagikan artikel ini pada jaringan sosial, atau grup facebook, Whatsap  PAUD, sebelumnya kami ucapkan terimakasih.


Juknis BOP PAUD Tahun 2019

Hallo sahabat PAUD Baitul Fiqri pada kesempatan ini kami akan bagikan kembali Juknis BOP PAUD Tahun 2019 dikarenakan teman-teman masih banyak menakan Juknis BOP Tahun 2019 ini, karena dimasing-masing Lembaga PAUD masih kesulitan dalam membuat RKAS BOP Tahun 2019 ini, mungkin dikarenakan belum membaca dari Juknis BOP tersebut.

Mungkin setelah memposting Juknis BOP PAUD Tahun 2019 ini, kami akan membagikan juka Contoh RKAS BOP Tahun 2019 yang sudah diperiksa oleh Dinas Pendidikan yang bisa dipelajari oleh teman-teman semua di lembaga masing-masing.
Juknis BOP PAUD Tahun 2019
Sebelum ke Contoh RKAS BOP Tahun 2019, alangkah baiknya teman-teman membaca dulu Juknis BOP PAUD Tahun 2019 ini.

Berikut kami sajikan Juknis BOP PAUD Tahun 2019


Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud telah menerbitkan Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019 dengan istilah Petunjuk Teknis (Juknis) Penggunaan DAK Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019. Menurut Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019, tujuan adanya Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019 adalah 1) Untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang bermutu, Pemerintah mengalokasikan dana alokasi khusus nonfisik bantuan operasional penyelenggaraan pendidikan anak usia dini; 2) Untuk membantu Pemerintah Daerah dalam mewujudkan peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini yang adil dan lebih bermutu, Pemerintah mengalokasikan dana bantuan biaya operasional penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. 

Menurut Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019, dinyatakan bahw yang dimaksud Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini selanjutnya disebut DAK Nonfisik BOP PAUD adalah dana yang dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara kepada daerah untuk membantu penyediaan pendanaan biaya operasional nonpersonalia bagi satuan pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan anak usia dini.

Pasal 2 Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penggunaan DAK Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019, menyatakan bahwa Petunjuk teknis Juknis penggunaan DAK Nonfisik BOP PAUD dimaksudkan untuk memberikan acuan/pedoman bagi Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, pemerintah kabupaten/kota, dan satuan pendidikan yang menyelenggarakan PAUD dalam penggunaan serta pertanggungjawaban keuangan DAK Nonfisik BOP PAUD.

Pasal 3 Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019, menyatakan bahwa Petunjuk Teknis (Juknis) DAK Nonfisik BOP PAUD tahun 2019 bertujuan: a) pemanfaatan DAK Nonfisik BOP PAUD tepat sasaran dalam mendukung operasional penyelenggaraan PAUD secara efektif dan efisien; dan b) pertanggungjawaban keuangan DAK Nonfisik BOP PAUD dilaksanakan dengan tertib administrasi, transparan, akuntabel, tepat waktu, serta terhindar dari penyimpangan.

Menurut Pasal 6 Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019, Besaran DAK Nonfisik BOP PAUD dari pemerintah pusat ke Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dan pemerintah kabupaten/kota untuk satuan biaya BOP PAUD sebesar Rp 600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) perpeserta didik pertahun.

Baca Juga : Download Contoh RKAS BOP Tahun 2019

Pada Pasal 7 Pasal 6 Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019, dinyatakan bahwa Sasaran program DAK Nonfisik BOP PAUD merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan PAUD dengan peserta didik yang terdata dalam data pokok pendidikan anak usia dini dan pendidikan masyarakat (Dapodik PAUD dan Dikmas). Lebih lengkap tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019 silahkan download dan baca Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis(Juknis) Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019.

Download Juknis BOP PAUD Tahun 2019


Demikian postingan kali ini tentang Juknis BOP PAUD Tahun 2019 yang diatur pada Permendikbud Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penggunaan DAK Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2019. Semoga bermanfaat. Jangan lupa share ke jaringan sosial yang teman-teman gunakan. Terimakasih

Pelajaran untuk Anak PAUD

Hallo bunda-bunda PAUD yuk kita lihat apa saja sih Pelajaran untuk Anak PAUD yang harus kita terapkan di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini?. Nah.. artikel kali ini kami akan menyajikan Pengenalan Pelajaran untuk Anak PAUD yang sudah kami rangkum dari berbagai sumber.

Untuk sebagai orang tua, khususnya yang bekerja, Paud adalah dewa penolong yang menggantikan tugasnya. Namun, tetap harus menyempatkan waktu untuk mendampingi si kecil. karena proses belajar dan bermain pada usia tersebut adalah dasar perkembangannya.
Pelajaran untuk Anak PAUD
Pelajaran untuk agama Islam atau agama lain, harus tetap dikotrol oleh orangtua di rumah. Jika tidak mulai hari ini, mau kapan lagi, maka dari itu sempatkanlah.

Materi Pembelajaran PAUD

Ini ada beberapa tips untuk tutor di lembaga PAUD dalam mendidik anak usia dini agar mereka dengan mudah mengingat materi Paud yang sudah diajarkan. Ini sudah termasuk kumpulan beberapa muatan materi K13 PAUD. 

1. Mengenalkan huruf dan bunyi-bunyian kepada anak-anak

Materi yang diajarkan di Paud oleh guru di kelas adalah 26 huruf abjad, baik huruf besar atau huruf kecil. Mereka juga belajar menulis, seperti nama sendiri, nama teman, dll. Nah, Bunda di rumah juga bisa membantu mengingatkan mereka dengan bermain memilih huruf, menyusun huruf, menonton video tentang hewan, dll.

2. Kenalkan macam-macam Warna dan bentuk dari sebuah objek

Materi parenting Paud yang bisa diajarkan di rumah, mulai dari mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengingatkan kembali, contoh pelajaran Paud misalnya:

Apel warnanya apa?
Bola itu bentuknya seperti apa?
Kuping letaknya dimana?

3. Belajar angka dan berhitung

Mengulang dengan menghitung jumlah mainan, jumlah pensil yang dimiliki, atau menggunakan kalender.

4. Menggambar, mewarnai, dan menggunting

Untuk melatih motorik halus, bunda bisa mengajak anak untuk menggambar atau mewarnai apa saja yang mereka suka. Menggaris, menggunting, dll bisa dilakukan agar semakin banyak variasi gerak yang mereka lakukan.

5. Ajak bersosialisasi

Materi parenting paud terakhir di ulas di sini, adalah mengajarkan anak untuk bersosialisasi. Biarkan mereka bermain dengan teman-temannya, jangan terlalu banyak dilarang selama masih dalam batas kewajara. Mintalah untuk menyalami tamu atau sodara yang datang berkunjung.

6. Gunakan Buku PAUD yang sesuai

Rekomendasi buku Pembelajaran PAUD yang berisi Berlatih Mengenal huruf, Berlatih Menarik Garis, Berlatih Mewarnai Gambar, Berlatih Menggunting, Mencocok, dan Merekat, Berlatih Menulis Huruf Hija’iyah, dan Berlatih Mengenal Angka.

Mudah-mudahan artikel ini tentang Pelajaran untuk Anak PAUD bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita dalam mendalami materi apa saja yang harus kita berikan kepada Anak Usia Dini di lembaga masing, jangan lupa bagikan arikel ini ke jaringan sosail yang bunda gunakan. Terimakasih

Psikologi Anak Usia Dini

Hallo sahabat semuanya kali ini saya akan memberikan sebuah potingan tentang Psikologi Anak Usia Dini, artikel ini cocok buat bunda-bunda PAUD ketahui, artikel ini diambil dari situs alodokter.com.

Berbicara mengenai masalah anak tidak akan ada habisnya, terkadang membuat orang tua menjdi bingung dan panik. Langkah paling bijak adalah memahami setiap psikologi yang ditunjukkan pada anak.

Berbagai aspek harus diperhatikan pada masa tumbuh kembang anak, termasuk dari sisi psikologis. Orang tua harus memahami berbagai sisi psikologi anak usia sejak dini agar pertumbuhan anak maksimal.

Memahami psikologi perkembangan anak usia dini adalah sebuah keharusan baik bagi para orang tua maupun guru-guru, masa anak usia dini merupakan masa penting dalam perkembangan anak itu sendiri. Pada masa emas tersebut anak mulai sensitif terhadap berbagai rangsangan, setiap anak secara individual akan mempunyai tingkat perkembangan kepekaan yang berbeda-beda seiring perkembangan dan pertumbuhan masing-masing anak.
Psikologi Anak Usia Dini
Masa usia dini merupakan periode perkembangan anak pada usia antara dua tahun hingga enam atau tujuh tahun. Pada masa ini, anak-anak mengalami perkembangan yang pesat, mulai dari segi fisik, emosional, pengetahuan, hingga kemampuan.

Ada tiga sisi perkembangan masa usia dini yang berpengaruh pada psikologi anak, yaitu:

1. Tumbuh Kembang Fisik

Perkembangan fisik anak usia dini merupakan hasil dari interaksi antara faktor keturunan dan lingkungan. Pada masa ini, penting untuk menciptakan lingkungan yang dapat merangsang pertumbuhan dengan membiarkan anak bereksplorasi dan mencoba hal baru. Hal ini karena otak tumbuh pesat pada usia 2-6 tahun, hingga mencapai sekitar 90% otak dewasa, yang diiringi oleh pesatnya kemampuan kognitif (nalar/berpikir).

2. Tumbuh Kembang Kognitif

Perkembangan kognitif anak sudah mulai dapat dikenali ketika anak-anak sudah mampu belajar dengan menggunakan simbol-simbol, seiring perkembangan linguistik atau kemampuan mereka dalam menguasai bahasa yang digunakan. Pada masa ini, imajinasi dan memori juga Hanya saja, anak pada masa ini belum sepenuhnya mampu berpikir logis, hubungan sebab-akibat, persepsi waktu, dan perbandingan.

3. Tumbuh Kembang Sosial dan Emosional

Perkembangan sosial dan emosional merupakan dua sisi yang saling berkaitan. Perkembangan ini biasanya melibatkan perolehan nilai, pengetahuan, dan keterampilan yang memungkinkan anak-anak untuk berhubungan dengan orang lain secara efektif dan berkontribusi dengan cara yang positif kepada keluarga, sekolah dan masyarakat.

Waspadai Pelecehan Psikologis ni yang sangat penting bagi kita sebagai tutor di lembaga anak usia dini (PAUD) masing-masing, bahwa pelecehan psikologis memiliki dampak negatif yang tidak sedikit pada psikologi anak. Sayangnya, pelecehan jenis ini biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat, termasuk orangtua, saudara, maupun pengasuh.

Jangan anggap remeh pelecehan psikologi pada anak. Beberapa contoh pelecehan psikologis antara lain memanggil dengan sebutan negatif, mempermalukan, mengancam, serta membiarkan anak melihat pelecehan yang dilakukan pada orang lain. Hal ini sering kita kenal dengan perundungan (bully). Selain itu, pelecehan psikologis juga dapat terjadi ketika orangtua mengabaikan keberadaan anak.

Dampak buruk pelecehan psikologi anak antara lain perkembangan mental yang lambat, kesulitan memiliki hubungan yang sehat, hingga dapat memicu masalah di sekolah. Selain itu, pelecehan psikologis pada anak juga dapat mengakibatkan gangguan seperti kecemasan, stres, depresi pascatrauma, dan penurunan tingkat percaya diri.

Tak dapat dipungkiri, menjadi orang tua merupakan salah satu tugas yang berat. Meski cedera akibat pelecehan psikologis tidak terlihat, namun banyak dampak negatifnya pada anak. Jika perlu, konsultasikan permasalahan psikologi anak pada psikolog atau dokter anak.

Mengenal psikologi perkembangan anak usia dini

Perkembangan anak dan pertumbuhannya mempunyai keterkaitan karena perkembangan fisik dan motorik berhubungan dengan perkembangan psikisnya, karena itu psikologi perkembangan tersebut tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut secara menyeluruh.

Pada masa emas tersebut seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada tingkat yang drastis yang mencakup perkembangan berfikir, perkembangan motorik, perkembangan emosi, perkembangan sosial dan tentu saja perkembangan fisiknya. Masa ini terjadi pada usia 0 sampai 8 tahun dan pada periode berikutnya tidak akan terjadi lagi lonjakan perkembangan tersebut. Oleh karena itu setiap orang tua harus memberikan perhatian khusus pada usia penting dalam perkembangan seorang anak karena nantinya akan memberikan pengaruh pada perkembangan dan kehidupan anak di masa berikutnya.

Memahami psikologi perkembangan anak usia dini

Pemahaman akan hal tersebut akan sangat membantu orang tua dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan, setiap anak pada usia dini akan mengalami perkembangan pada beberapa aspek penting dalam kehidupannya. Diantaranya sebagai berikut :

Perkembangan kognitif

Perkembangan kemampuan kognitif anak terjadi dalam empat tahap yaitu tahap sensor motor yang terjadi saat usia anak 0-2 tahun, pada tahap ini seorang anak mulai memiliki kemampuan gerakan refleks. Tahap kedua adalah pra-operasional yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Pada tahap pra-operasional ini anak akan mulai dapat menerima rangsangan namun sifatnya masih terbatas. Selanjutnya tahap konkret operasional yang terjadi pada usia 7-11 tahun dimana seorang anak sudah mulai dapat berfikir secara rasional dan mampu menjalankan operasional yang nyata. Tahap terakhir pada perkembangan kognitif adalah formal operasional dimana anak beranjak remaja. Pada tahap ini anak mampu berfikir dengan menggunakan hipotesa untuk memecahkan masalah.

Perkembangan fisik

Perkembangan fisik anak pada usia dini berkaitan dengan perkembangan motoriknya yang dibagi dalam perkembangan motorik halus dan motorik kasar.

Perkembangan bahasa

Ada tiga periode yang terjadi dalam perkembangan kemampuan bahasa seorang anak yaitu periode pre-lingual yang terjadi pada usia 0-1 tahun dimana anak sudah mulai mengoceh, periode lingual pada usia 1-2,5 tahun dimana anak sudah mampu membuat kalimat dan periode diferensiasi yang terjadi pada usia anak 2,5-5 tahun dimana seorang anal mempunyai kemapuan bahasa yang baik dan benar.

Perkembangan sosio-emosional

Perkembangan kemampuan sosio-emosional anak sangat penting dalam psikologi perkembangan anak usia dini karena pada perkembangan ini akan terbentuk rasa percaya diri dan perkembangan kemandirian dalam dirinya.

Mungkin cukup sekian artikel kali ini tentang mengenai Psikologi Anak Usia Dini yang harus kita pelajari untuk dikembangkan di Lembaga PAUD kita, mari kita mendalami Psikologi Anak Usia Dini untuk kemajuan pendidikan anak usia dini yang kita hadapi di lapanagn.

Belajar Huruf Hijaiyah

Hallo sahabat semunya kali ini saya akan memberikan sebuah pelajaran bagaimana Belajar Huruf Hijaiyah mulai dalam dari pengenalan hurufnya, tapi sebelumnya saya minta maaf jika artikel ini kurang berkenan. 

Pernah saya membaca penjelasan dari salah satu web bahwa belajar membaca alquran hal yang mendasar adalah mengetahui Huruf Hijaiyah dan cara bacanya. Oleh karena itu dalam artikel kali ini saya akan mengenal 29 huruf hijaiyah.

Dalam postingan ini saya sarankan dalam mempelajari huruf hijaiyah dan tau cara membaca nya, sebaiknya sobat print out hurup-hurup hijaiyah yang sudah saya bagikan dalam postingan ini.

Berikut Huruf Hijaiyah Lengkap dengan Latinnya:


Huruf-huruf di atas sangat bagus untuk diperkenalkan kepada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di lembaga kita, tetapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti Tanda Baca dan Tatanan Huruf Hijaiyah. Berikut saya jelaskan sedikit apa yang dimaksud Tanda Baca.

Tanda Bacanya yang dimaksud adalah tanda harakat untuk menandai sebuah huruf Hijaiyah tersebut, apakah dibaca ‘a / an’ (fath}ahtain), ‘i /in’ (kasrah/ kasrahtain), ‘u /un’ (d}amah / d}amahtain), atau huruf tersebut dibaca dengan bacaan dobel (tasydid) atau mati (sukun).

Ibarat kata, tanda baca di sini adalah huruf vokal dan huruf hijaiyahnya adalah huruf konsonannya, nggak jauh beda dengan pelajaran Bahasa Indonesia, yang ada huruf konsonan dan huruf vokalnya.

Tatanan Huruf Hijaiyah, jika dalam tatanan bahasa Indonesia kita dikenalkan dengan tatanan huruf  a, b, c, d, e sampai akhir, yakni huruf z. Maka, dalam tatanan huruf hijaiyah inipun juga ada tatanannya.

Tatanan huruf hijaiyah ini adalah huruf Arab, maka penulis ingin memberikan keterangan lebih dahulu mengenai penyalinan atau penggantian huruf Arab tersebut ke bahasa Indonesia (transliterasi).

Hal ini penulis maksudkan, agar semuanya tahu, bahwa ada huruf-huruf yang aslinya dibaca dengan akhiran huruf ‘O’, karena sudah di salin atau di ganti (transliterasi), maka hurufnya tertulis menjadi ‘A’. Contoh: huruf …, yang aslinya dibaca ro, tetapi dalam penulisan diganti atau terbaca menjadi ‘ra’.

Mungkin cukup sekian artikel kali ini yang bisa saya bagikan mudah-mudahan bermanfaat, jangan lupa bagikan artikel ini ke sosial media yang sobat punya.

Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek"

Hallo bunda-bunda PAUD, mungkin bunda butuh ni dengan Labu Buat Anak PAUD di Satuan Pendidikan masing-masing dengan judul lagunya "Bebek Wek Wek Wek".

Lagu ini kami dapat dari Ruang Guru PAUD di sana sobat bisa mendengarkannya langsung ketika bunda klik tombol Play.
Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek"
Tetapi dalam komnetar di sana, masih banyak yang kesulitan untuk mendownload lagu tersebut. Nah.. pada kesempatan ini kami akan mempermudah bunda-bunda dalam mendownloadnya untuk di ajarkan kepada anak-anak di sekolah.

Sebab kami Upload video ini ke dalam Google Drive kami, artinya sangat mudah untuk didownload walapun bunda downloadnya di Handphone.

Silahkan Download Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek" pada Link Di bawak ini:

Download Lagu Buat Anak "Bebek Wek Wek Wek"

Mudah-mudahan bermanfaat, jangan lupa bunda bagikan artikel ini ke jaringan sosial yang bunda gunakan, atau di grup-grup guru PAUD di Kecamatan masing. Terimakasih

Keaksaraan Awal Untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Polemik membaca dan menulis bagi anak usia dini masih menjadi pro dan kontra. Ada yang berpendapat membaca bagi anak usia dini berarti memaksakan anak untuk memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di Sekolah Dasar (SD).    Sebagian lain berpendapat, tidak masalah mengajarkan membaca sejak anak usia dini, agar anak memiliki kesiapan ketika masuk SD. Selain itu kemampuan membaca merupakan salah satu syarat untuk masuk SD. Permasalahan tersebut, membuat orangtua menjadi bingung, mana yang harus diikuti.
Keaksaraan Awal Untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Mengenai kontroversi bisa tidaknya anak usia dini diberikan materi pelajaran membaca, R. Ella Yulaelawati R., M.A. Ph.D, Direktur Pembinaan PAUD mengatakan yang dibutuhkan anak usia dini adalah keaksaraan awal. Hal tersebut disampaikan ketika menjadi pembicara pada seminar “Peran Orangtua Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Anak Usia Dini”, yang dilaksanakan oleh Yayasan Citra Pendidikan Indonesia.

Dasar Hukum


Untuk calistung, sudah ada larangan melalui ederan dirjen PAUD dan Dikmas. Dan untuk mematahkan argumen bahwa tetap dikehendaki calistung, karena SD-SD mengetes calon peserta didik baru dengan calistung, itu sudah ada ederan dari Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa untuk masuk SD itu tidak diharuskan anak-anak ikut tes calistung, urai Ella Yulaelawati,  

Selain itu menurut Direktur Pembinan PAUD, untuk mengkaji tentang membaca bagi anak usia dini dapat merujuk peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 146 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini. Dalam pasal 5 dimuat bahwa struktur kurikulum PAUD membuat program-program pengembangan yang mencakup; nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, dan seni. Serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, pasal 10 berbunyi “keaksaraan, mencakup pemahaman terhadap hubungan bentuk dan bunyi huruf, meniru bentuk huruf, serta memahami kata dan cerita”.

“Jadi memahami kata dan cerita itu tidak dilarang, meniru bentuk hurup tidak dilarang. Untuk kita harus memahami kurikulum PAUD, agar kita dapat memahami apa yang dianjurkan dan apa yang dilarang, itu harus diketahui”, tegas Ella Yulaelawati.

Menurut Ella Yulaelawati, pada prinsipnya Kurikulum PAUD 2013, mendorong pengembangan optimal potensi peserta didik melalui pengalaman belajar bermakna. Yakini melalui bermain, untuk menumbuhan sikap spritul, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan agar mereka memiliki kesiapan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Namun banyak yang sempit menafsirkan kesiapan menempuh jenjang pendidikan selanjutnya dengan kemampuan baca, tulis, dan hitung. Sehingga sampai saat ini tetap ada orangtua yang menganjurkan anaknya kursus membaca, menulis,  dan berhitung. Dan ini salah besar, kalau anak belum siap.

“Sebagaimana kemampuan visual, kognitif, mendengarkan sejak janin memang dianjurkan. Tetapi apakah dalam ketegori membaca teknis, yang membutuhkan pengkodean terhadap simbol dan huruf-huruf dan juga pemaham kemampuan anak. Sederhananya begini, apakah anak-anak usia rata-rata 1 tahun bisa berjalan. Untuk bisa jalan pertama kali membalikkan badan, tengkurap, duduk, merangkak baru bisa pintar jalan. Membaca juga demikian, apalagi otaknya sedang berkembang. Kalau anak dipaksa  usia 1 tahun semuanya harus bisa jalan nanti kakinya ada bengkok, ada yang huruf O kalau belum siap. Sekarang ibu-ibu menggunakan Baby walker padahal kaki-kakinya belum tumbuh sempurna, nah itu berpengaruh besar pada perkembangan kaki anak. Nah demikian juga perkembangan otak kalau dikursuskan membaca”, terang Ella Yulaelawati.

Kompetensi Inti Kurikulum PAUD 2013


Selanjutnya Ella Yulaelawati mengatakan, pada Kompetensi Inti kurikulum PAUD 2013 yang berkaitan dengan membaca (K1-4), disebutkan menunjukkan yang diketahui, dirasakan, dibutuhkan, dan dipikirkan melalui bahasa, musik, gerakan, dan karya secara produktif, dan kreatif, serta mencerminkan perilaku anak berakhlak mulia. Tidak disebut calistung.

“Ada memang yang menunjukkan membaca didalam kurikulum PAUD. Dari kompetensi dasar, K.1.10 disebutkan  menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif (menyimak dan membaca). Tapi lihat indikatornya (4.1.10) untuk usia 4-5 tahun, yaitu menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosa kata yang terbatas. Usia 5-6 tahun, yaitu  menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosakata yang lebih. Maksudnya menyimak dan membaca disini adalah, orang dewasa membaca atau dongeng yang diceritakan, kemudian anak menceritakan kembali apa yang didengar dengan kosa kata terbatas untuk anak usia 4-5 tahun, dan kosa kata lebih bagi anak usia 5-6 tahun”, jelas Ella Yulaelawati.

Keaksaraan Konvensional


Menurut Direktur Pembinaan PAUD, membaca adalah kunci belajar. Memang betul anak yang mempunyai pengalaman terhadap bahan cetak akan mempunyai dasar-dasar kemampuan untuk membaca, dan membaca adalah fondasi untuk belajar kemampuan belajar lainnya. Kosa kata dan kalimat serta kemampuan berbahasa kebanyakan diperoleh dari membaca atau melalui bahasa tulis.

“Tapi apakah harus mengajar membaca di PAUD?, jawabnya tidak. Tidak mengajar membaca, tidak mengajar membaca bunyi, tidak keaksaraan konvensional. Tetapi harus, harus, dan wajib keaksaraan awal atau pra-keaksaraan”, ungkap Ella Yulaelawati.

Selanjutnya beliau menjelaskan, apa yang tidak boleh, yang tidak boleh  adalah keaksaraan konvensional. Dimana mengajar membaca yang memuat komponen reseptif yang meliputi ketepatan pengkodean, kelancaran pengkodean, dan pemahaman bacaan. Karena anak dapat mengkodekan hal-hal/kosakata yang dapat dipahami, tetapi anak tidak dapat memahami hal-hal yang tidak dapat dikodekan. Jadi membaca itu melibatkan 2 hal. Pertama kemampuan pengkodean dan kedua kemampuan pemahaman”

Anak akan mengalami kesulitan membaca bila, 1. Kurang kesempatan berlatih dengan aksara. 2. Kurang kesempatan mengembangkan strategi memahami bacaan. 3. Sering berlatih membaca di luar kemampuannya. 4. Mempunyai pengalaman negatif terhadap membaca. Atau dipaksa/terpaksa membaca di luar minatnya.

Pada kesempatan tersebut Ella Yulaelawati mengingatkan bahwa, kita sering mendengar bonus demokrafi. Sekarang ini anak usia dini ada 19 juta, kalau 19 juta ini diberikan calistung yang tidak bermakna. Maka 19 juta di tahun 2030 atau 15 tahun kemudian, kalau mahasiswa sulit menulis skripsi. Karena dia mempunyai pengalaman negatif terhadap membaca. Apakah itu yang kita inginkan dengan bonus demografi. Lalu alih-alih mendapat bonus 2045 angkatan kerja yang berkualitas, tapi kita hanya mendapat angkatan kerja yang menjadi beban pemerintah, oleh karena itu, apa yang diharuskan adalah keaksaraan awal.

Keaksaraan Awal


Direktur Pembinaan PAUD berpendapat bahwa, Pra-keaksaraan atau keaksaraan awal adalah istlah yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan anak dalam menggunakan aksara atau membaca dan menulis yang dikuasai sebelum anak belajar cara membaca dan menulis.

“Jadi jangan dikira anak tidak punya keaksaraan awal. Anak yang tidak diajar karena sering dibiasakan bersentuhan dengan aksara. Contohnya Nak tolong bawain majalah kompas,  anak tidak akan membawa majalah tempo, dia bisa membaca gambar. Tapi bukan dia membaca kompas,  tapi dia memahami bentuk-bentuk huruf, misalnya dia bisa membedakan spiderman atau superman” ucap  Ella Yulaelawati. 

Keaksaraan awal merupakan tanda bahwa anak, bahkan sejak usia satu atau dua tahun sudah berproses untuk menjadi aksarawan. Ini yang harus ditumbuhkan, yaitu proses untuk menjadi aksarawan, bukan untuk menjadi anak menjadi pintar calistung, yang pintar menjawab teks/soal. Menurut Ella Yulaelawati Keaksaraan awal merupakan tatanan fondasi untuk mengusai kemampuan membaca dan menulis serta berhitung yang menyenangkan. Keadaan keaksaraan awal ini harus dikembangkan dengan baik di PAUD dan tidak dialihkan dengan penguasaan keaksaraan konvensional yang akan melelahkan anak dan menimbulkan pengalaman negatif terhadap membaca dan menulis. Keaksaraan awal dapat dibangun sejak bayi dan di usia dini melalui peran serta orang dewasa dalam kegiatan bermakna yang melibatkan berbicara dan aksara.

Keaksaraan awal dapat membangun calon pembaca yang berminat baca dengan menguasai: 1. Bahasa lisan. 2. Lingkungan beraksara . 3. Pengetahuan abjad melalui bernyanyi; 4. Makna bunyi. 5. Pemahaman visual-gambar bola, buah, bunga. 6 Konsep bahan cetak (Tulisan yang dikenal anak, seperti: TV, dora, spiderman). 7 Bahasa tulis-pengetahuan tentang buku. 8 Seolah membaca–meniru membaca. Dan 9. Seolah menulis–meniru menulis.

Jadi Periode anak usia dini merupakan masa peka untuk semua perkembangan anak, sehingga dalam pembelajaran Pra-Keaksaraan diharapkan peran guru lebih banyak menstimulasi, membimbing, dan mengasuh dengan memberikan bermain yang bermakna, aman, nyaman dan menyenangkan  sesuai tahap perkembangan anak, sehingga anak mampu menumbuhkan lebih  banyak penguasaan kosa kata. Anak mampu mendongeng, jangan hanya gurunya saja yang mendogeng. Anak juga mampu membacakan kembali buku imajinatif yang kreatif, dan mampu menjelajah kekayaan bahasa serta dapat menikmati lingkungan beraksara, ujar Ella Yulaelawati.

Kegiatan Bermain Yang Mengembangkan Bahasa Lisan


Menurut Ella Yulaelawati, kegiatan bermain dengan anak dapat mengembangkan bahasa lisan, diantaranya melalui:

1. Bermain Drama

Gunakan pakaian, assesoris, nyanyian, tarian yang dapat mendramakan suatu cerita sehingga disukai anak. Bermain seperti ini, melibatkan anak dalam mengalami pelibatan bahasa dan membantu mereka mengerti perlunya membaca untuk memahami sesuatu.

2. Bermain Balok

Kadang bermain balok, bermain balok saja, tidak dikenalkan perolehannya. Guru bisa membandingkan, menjelaskan, lalu mengembangkan kemampuan kosa kata yang berkaitan dengan bentuk-bentuk bangunan, menara, jembatan atau struktur alam seperti pohon, batu dan gunung, untuk belajar kosakata tentang struktur.  Bermain mengembangkan bahasa ketika anak-anak berbicara bersama anda, membandingkan, menjelaskan dan memberi nama pada struktur-struktur yang telah diciptakan oleh mereka.

3. Bermain menggunakan permainan sendiri

Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan mengumpulkan benda-benda yang dimulai dengan huruf “D”, misalnya daun, dadu, donat, duku, dll.

4. Menyanyi bersama anak

Musik dan nyanyian adalah hal yang penting dalam mengembangkan pengenalan bunyi dan suara, khususnya yang digunakan untuk mengucapkan huruf.  Selain itu menyanyikan lagu yang memuat irama dan cerita membantu anak untuk mempelajari huruf baru sebagaimana mereka memahami irama  dan isi lagu. Hal itu juga membantu untuk mengembangkan kemampuan anak dalam mencipta isi dan lagu  sendiri.

Banyak anak-anak secara alami tertarik untuk bergumam atau menyanyikan lagu. Hal itu juga bermanfaat untuk membangun ketertarikan anak terhadap musik dan meningkatkan perkembangan keaksaraan anak pada waktu yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan bermain permainan lagu alphabet dengan anak dengan mencari benda-benda misalnya yang dimulai dengan huruf “B”  bola, boneka, bunga dan seterusnya. Guru dan orangtua dapat membantu mereka untuk menjelaskan kosakata yang disebutkan anak-anak.

5. Membaca bersama anak

Ketika membaca bersama anak, minta mereka menjelaskan mengenai cerita apa yang telah mereka baca. Membaca bersama-sama membantu anak untuk mengekspresikan diri mereka sendiri secara verbal.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dapat lebih mempelajari tentang huruf dan kosakata ketika orangtua membaca bersama-sama dengan mereka. Serta meminta anak-anak untuk menceritakan cerita yang mereka baca. Hal ini bisa dilakukan dengan menyuruh anak-anak melihat hanya pada gambar yang ada dalam buku, bukan kata-katanya, kemudian minta mereka untuk menceritakan isi cerita berdasarkan gambar dari buku yang dibaca bersama.

Pada prinsipnya kemampuan Pra Keaksaraan Anak Usia Dini meliputi; 1. Berbicara secara positif dan akurat berdasarkan kosa kata yang didengarnya. 2. Mendengarkan, mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan bahasa yang baik. 3. Menyampaikan dan menceritakan dongeng atau bacaan yang didengarnya. 4. Meniru/mengekspresikan karakter tokoh-tokoh baik dan menghindar dari karakter negatif. dan 5. Mengatasi emosi seperti rasa takut, cemburu, marah atau meluapkan kegembiraan yang sehat dari dongeng atau bacaan yang didengarnya.

Diakhiri materinya Direktur Pembinaan PAUD mengingatkan bahwa hal-hal yang harus dihindari yaitu: 1. Mengajarkan membaca tidak sesuai perkembangan anak. 2. “Memaksakan” anak belajar membaca bunyi tanpa makna. 3.  Memberikan lembaran kerja berlebihan. Dan 4. Menganjurkan orangtua agar anak ikut kursus membaca. (adrianto).

Sumber: Ruang Guru PAUD

Kriteria Ideal Guru Taman Kanak-kanak

Hallo sobat, kami bagikan kembali artikel tentang Kriteria Ideal Guru Taman Kanak-kanak yang perlu kita perhatikan di lembaga Pendidikan Anak Usia Dini yang sekarang kita kelola, jangan-jangan guru di lembaga kita belum ideal.

Guru-guru taman kanak-kanak (TK) selain harus memiliki modal kerja untuk mendidik murid, juga idealnya memenuhi kriteria tertentu. Soal perlunya modal kerja ini, silakan pembaca memeriksa artikel lain dalam laman ini juga berjudul Modal Kerja Guru Taman-kanak. Berikut kriteria ideal guru TK yang saya coba adaptasikan dari buku Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak, karya Agus F. Tangyong dkk., terbitan Gramedia, 1988.
Kriteria Ideal Guru Taman Kanak-kanak
Guru TK yang paling ideal adalah seorang profesional yang terdidik dan terlatih baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya. Pengertian terdidik adalah mereka yang memiliki bekal pendidikan formal. Idealnya, guru TK minimal berpendidikan strata 1 dalam bidang apa pun. Namun tak berarti mereka yang berpendidikan setingkat SMP atau SMA tak dibolehkan mengajar murid TK, karena pada dasarnya yang dibutuhkan adalah kemampuannya yang setingkat sarjana Strata 1, bukan ijazahnya.

Memang faktanya sebagian besar guru pendidikan anak usia dini, termasuk di dalamnya guru TK, belum sarjana. Berdasarkan data yang diungkapkan Direktur Pembinaan PAUD Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kemdikbud Ella Yulaelawati seperti dikutip laman beritasatu.com,  jumlah tenaga kependidikan PAUD saat ini sebanyak 588.475.

Dari jumlah itu, sebanyak 22.972 berlatar belakang pendidikan SMP dan 289.762 SMA. Kemudian, lulusan diploma sebanyak 75.678 dan S1 sebanyak 196.181 orang. Selanjutnya, guru dan tenaga kependidikan lulusan S2 terdapat 3.882 orang.

Kriteria lain, terlatih dengan baik. Guru TK haruslah seorang yang menguasai tehnik mendidik, memiliki pengetahuan tentang cara-cara mendidik, maupun membuat rancangan kegiatan (mingguan dan harian) dan mampu mengorganisasikan kelas. Ia juga mengetahui cara menghadapi berbagai macam  permasalahan anak, mulai dari perkelahian antar anak sampai dengan menggiatkan kelompok belajar.

Guru-guru TK niscaya membutuhkan pelatihan-pelatihan untuk mampu mendidik anak-anak usia TK. Pelatihan-pelatihan ini menyangkut penguasaan kurikulum, pengetahuan tentang kompetensi dasar yang mesti dibekalkan ke anak didik, metode-metode yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kurikulum, dan lain-lain. Pelatihan yang paling dibutuhkan tentu saja materi bermain sebagai metode untuk penanaman nilai-nilai yang diharapkan disemaikan dalam jiwa anak-anak TK.

Kriteria  lain, pengalaman yang kaya di bidangnya. Mereka yang sudah lama menjadi guru TK pasti akan lebih lihai dalam menghadapi murid-murid yang masih berusia dini ini, dibanding para guru pemula. Bagaimana cara menangani anak yang pemberontak, perengek, pengganggu dan lain-lain? Pengalaman yang panjang karena itu diharapkan  meningkatkan kompetensi guru TK untuk menjalankan tugasnya.

Kriteria lain, kecintaan yang tulus pada anak, berminat pada perkembangan anak, bersedia mengembangkan potensi yang dimiliki anak, hangat dalam bersikap dan bersedia bermain dengan anak. Kata kuncinya di sini: mencintai anak. Jika rasa cinta pada anak-anak sudah muncul di dalam hatinya, maka sikap-sikap berikutnya akan mengikut, seperti memperhatikan, memedulikan, bersimpati, berempati, sikap hangat, dan seterusnya.

Guru TK adalah guru yang konsisten sekaligus luwes dan lincah dalam menghadapi kebutuhan, minat dan kemampuan anak.

Kriteria guru yang ideal belum tentu dapat dipenuhi oleh seorang guru TK, namun yang penting adalah usaha ke arah itu.

Sumber: Ruang Guru PAUD

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NO 4 TAHUN 2019 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS NONFISIK BANTUAN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Hallo sahabat semuanya kami akan kembali lagi mengupdate blog ini, sebelumnya kami minta maaf karena banyak kesibukan di dunia nyata sehingga kami tidak memberikan informasi terupadte pada blog kesayangan ini.

Pada kesempatan ini kami akan menginformasikan tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 4 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini atau yang sering di sebut BOP PAUD.

Pendidikan pra-sekolah atau yang populer sebagai PAUD yang lebih komprehensif, inklusif dan bermutu merupakan hal yang positif bagi kepentingan pengembangan potensi dan karakter yang dimiliki anak sejak dini serta mempersiapkan anak untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Berbagai hasil penelitian menunjukkan perkembangan anak usia dini merupakan tahap perkembangan yang paling penting dalam masa hidup manusia. 
Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini
Program-program pelindungan, pengasuhan anak dan pendidikan usia dini yang berkualitas menghasilkan manfaat dan efek jangka panjang yang lebih tinggi daripada program belajar semata. Penyiapan manusia berkualitas sejak dini sejalan dengan program prioritas yang diamanatkan Nawacita, khususnya Nawacita ke-8 yaitu “melakukan revolusi karakter bangsa”, Nawacita ke-5 “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”, dan Nawacita ke- 6 “meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional”.

Dari hasil pemantauan masih banyak anak-anak yang kurang beruntung untuk memperoleh manfaat yang paling mendasar dari  program PAUD. Mereka memiliki keterbatasan untuk memperoleh layanan yang layak melalui program PAUD: anak perempuan, anak-anak migran, dan anak- anak korban konflik, bencana, dan kekerasan; anak-anak yang hidup dalam kemiskinan ekstrim dan di pedesaan serta daerah terpencil; anak yang kesehatannya buruk, kurang gizi, dan menyandang cacat serta keterlambatan perkembangan; serta anak-anak dari minoritas bahasa/etnis.

Pencapaian selama 17 tahun sejak program PAUD dicanangkan oleh pemerintah menunjukkan hal yang positif dalam keikutsertaan peserta didik khususnya usia 3-6 tahun dalam program-program PAUD. Citacita memberikan kado ulang tahun emas kemerdekaan Indonesia yang ke 100 akan sangat ditentukan oleh bagaimana kita memanfaatkan peluang bonus demografi dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berintegritas dan berdaya saing global.

Berdasarkan proyeksi data Biro Pusat Statistik jumlah anak usia 3-6 tahun pada tahun 2016 yang berjumlah 19,23 juta anak, pada tahun 2045 usia mereka akan mencapai 32-35 tahun (proyeksi berdasarkan hasil SP 2010). Usia ini merupakan usia angkatan kerja produktif yang jika dipersiapkan dengan baik sejak dini akan menjadi modal pembangunan. Sebaliknya, jika tidak dipersiapkan dengan baik justru kelak akan menjadi beban pembangunan atau bencana demografi.

Maju dan berkembangnya pembangunan suatu bangsa atau negara sangat ditentukan oleh keseriusan pemerintah dalam mempersiapkan generasi penerusnya. Penyiapan generasi unggul untuk menjawab kemajuan peradaban harus dipersiapkan sejak anak masih berusia dini. PAUD merupakan pendidikan yang paling mendasar, dan PAUD yang berkualitas akan sangat berkontribusi terhadap kualitas pendidikan pada jenjang selanjutnya. Hal ini sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019 yang menyatakan bahwa peningkatan akses dan kualitas PAUD secara holistik dan integratif merupakan pondasi terwujudnya pendidikan dasar 12 tahun yang berkualitas. 

Untuk lebih jelasnya silahkan sobat download saja Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 4 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini. 

DOWNLOAD PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS NONFISIK BANTUAN OPERASIONAL PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI TAHUN 2019.

Demikian informasi kali ini yang bisa kami bagikan mudah-mudahan bermanfaat, jangan lupa bagikan di grup-grup Pendidikan Anak Usia Dini untuk lebih memahami petunjuk teknis juknis penggunaan dana BOP PAUD.

Dapodik PAUD TP. 2018/2019 Semester 2 (Genap) Sudah Dibuka

Hallo sahabat semuany, kali ini admin akan menginformasikan kembali mengenai Dapodik PAUD Tahun Pelajaran 2018/2019 Semester Genap, semoaga informasi ini bermanfaat dan semoga kita dalam keadaan sehat wal'afiat.

Pengisian Data Dapodik PAUD dan Dikmas Semester Genap Tahun 2018/19. Mulai hari ini tanggal 7 Januari 2018, pengisian data Dapodik PAUD dan Dikmas dapat dilakukan kembali. 

Perlu diketahui bahwa saat ini penginputan hanya dapat dilakukan melalui Aplikasi/ Metode Dapodik PAUD yang bersifat Online melalui alamat/ Link http://app.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/dapodik

Adapun Aplikasi Dapodik PAUD yang bersifat Offline akan dirilis dalam waktu dekat, dengan demikian kita harus mempersiapkan mental dalam pengisiannya. 

Bagaimana jika ingin menggunakan Dapodik Online?


Adapun bagi satuan Pendidikan PAUD yang hendak menggunakan Aplikasi Dapodik Online, silahkan mengubah dulu metode sinkronisasinya melalui Aplikasi Manajemen Dapodik PAUD dan Dikmas di alamat http://manajemen.paud-dikmas.kemdikbud.go.id.

1. Silahkan Klik Login yang ada di pojok kanan atas, kemudian pilih "Satuan Pendidikan". Lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini:
Gambar: Dapodik PAUD Online
Gambar: Dapodik PAUD Online
Silahkan masukan Email dan Password Dapodik sobat, kemudian silahkan login. 

2. Langkah Kedua, jika sudah masuk silahkan pilih Gambar Wifi, kemudian silahakan pilih metode sinkronisasi, lebih jelasnya silahkan lihat gambar di bawah ini:
Gambar: Dapodik PAUD Online 1
Gambar: Dapdik PAUD Online 2
Jika sudah melakukan step by step seperti di atas, jangan lupa Klik Simpan.

3. Langkah selanjut silahkan masuk ke Aplikasi Dapodik Online melalui alamat Alamat/ Link http://app.paud-dikmas.kemdikbud.go.id/dapodik, kemudian silahkan lakukan Update/Pengisian Dapodik PAUD Tahun Pelajaran 2018/2019 Semester Genap. Tampilannya sepeti gambar di bawah ini:
Gambar: Tampilan Dapodik Online

Bagaimana jika ingin kembali ke Dapodik Offline?


Apabila sobat ingin kembali ke Dapodik Offline, langkahnya sama saja seperti di atas, tinggal merubah metode Sinkronisai dari Dapodik Online ke Dapodik Ofline Sinkron Online.

Notes:
Bagi satuan pendidikan penyelenggara pendidikan kesetaraan, sampai saat ini data peserta didik yang diinput pada semester Genap tahun 2018/19 tidak ditarik ke aplikasi PDUN. 
Sesuai dengan informasi sebelumnya perubahan data peserta didik hanya dapat dilakukan melalui Aplikasi Verval PD, oleh karena itu dimohon bagi satuan pendidikan yang belum memiliki akun SDM Kemendikbud agar mendaftar melalui halaman http://sdm.data.kemdikbud.go.id

Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat, jangan lupa share kembali, jika ada pertanyaan seputar Dapodik, silahkan tuliskan pada kotak komentar yang sudah disediakan. Terimakasih